Soeharto, Pahlawan atau Luka Lama? Ketika Indonesia Menulis Ulang Sejarahnya

Soeharto dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo. Dunia menyorot: penghargaan, atau upaya menulis ulang sejarah Indonesia?

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025, menjadi sorotan tajam di dalam dan luar negeri. Tak hanya bagi rakyat Indonesia yang masih menyimpan kenangan kompleks atas masa Orde Baru, tetapi juga bagi media internasional yang menyorot langkah ini sebagai bab baru dalam perjalanan sejarah dan memori bangsa.

Dalam upacara Hari Pahlawan di Istana Negara, Jakarta, Presiden Prabowo — yang juga mantan menantu Soeharto — menetapkan sepuluh tokoh sebagai pahlawan nasional. Di antara nama-nama itu, Soeharto menjadi figur paling mencolok, menimbulkan gelombang reaksi beragam.

Media Prancis, Agence France-Presse (AFP), menulis dengan nada kritis:

“Indonesia menambahkan mantan presiden Soeharto ke dalam daftar pahlawan nasional, meskipun ada keberatan dari para aktivis dan akademisi atas catatan hak asasi manusia mendiang diktator militer tersebut.”

AFP menyoroti bagaimana keputusan tersebut memperlihatkan ketegangan antara penghargaan terhadap “stabilitas dan pembangunan” versus luka sejarah pelanggaran HAM di era Orde Baru.

Nada serupa muncul dari Reuters, yang dalam artikelnya berjudul “Indonesia Grants National Hero Status to Late Strongman President Suharto” menekankan dualitas warisan Soeharto. Di satu sisi, ia dikenang sebagai arsitek pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik selama tiga dekade. Namun di sisi lain, ia juga diingat karena represi politik, pembungkaman pers, dan skandal korupsi yang menghantui akhir kekuasaannya.

“Suharto memimpin Indonesia melewati masa pertumbuhan ekonomi pesat dan stabilitas, namun kemudian menyaksikan banyak pencapaiannya runtuh ketika krisis Asia 1997-1998 mengguncang negeri itu,” tulis Reuters.

Di dalam negeri, langkah ini tidak luput dari perdebatan. Majalah The Diplomat bahkan lebih keras menyoroti kebijakan tersebut sebagai bagian dari “revisionisme sejarah yang semakin menguat di bawah Presiden Prabowo Subianto”. Media berbasis di Asia itu melaporkan adanya aksi protes kecil dari sejumlah aktivis dan akademisi yang menilai penganugerahan itu berpotensi “mengaburkan pelajaran sejarah kelam Orde Baru”.

Menjawab polemik tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon — selaku Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan — menyebut bahwa setiap keputusan sudah melalui kajian ilmiah yang panjang.

“Kontribusi, latar belakang, dan kisah hidup almarhum telah dipelajari dan diverifikasi secara akademis dan ilmiah,” ujarnya.

Namun, di tengah argumen pro dan kontra, satu hal yang tampak jelas: penetapan Soeharto sebagai pahlawan nasional bukan sekadar soal penghargaan. Ia membuka kembali ruang perdebatan tentang bagaimana Indonesia ingin mengenang masa lalunya — apakah dengan melupakan sisi kelam demi menonjolkan pembangunan, atau dengan menempatkan sejarah secara utuh, baik terang maupun gelapnya.

Dalam konteks global, sorotan media asing atas kebijakan ini menunjukkan bahwa dunia masih menaruh perhatian pada bagaimana bangsa terbesar di Asia Tenggara ini berdamai dengan masa lalunya.

Kini, setelah dua dekade reformasi dan dua presiden berlalu, keputusan ini menjadi cermin reflektif:

 Apakah Indonesia sedang menulis ulang bab sejarahnya, atau sekadar menafsir ulang makna kepahlawanan dalam konteks politik hari ini?

Iklan Tanah Air News
Iklan Tanah Air News
Iklan Tanah Air News
Nama

Budaya,4,Daerah,42,Ekbis,5,Kampus,5,Mancanegara,14,Nasional,26,News,3,Pendidikan,5,Politik,4,Science,5,Sorotan,20,Tokoh,2,
ltr
item
Tanah Air News: Soeharto, Pahlawan atau Luka Lama? Ketika Indonesia Menulis Ulang Sejarahnya
Soeharto, Pahlawan atau Luka Lama? Ketika Indonesia Menulis Ulang Sejarahnya
Soeharto dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo. Dunia menyorot: penghargaan, atau upaya menulis ulang sejarah Indonesia?
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEja5DTaUmsaNkDJRYd68Xu4SuuHq3vyVpVC7Ii3jpqiOL5KrCbBa6bu6d98CC3eX7BQNvaSmVX7EON1fXsekurOP_TxQwl183yaEmU7ceo85oJwIyWk3oim0CT4K1HhAir8NJ1U_FUMYqaRiK5hGw1-O13CapU9IT0k7VQKNA-HFuYWrcEvlc-J5kIR9BBM/s16000/Soeharto%20pahlawan%20nasional.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEja5DTaUmsaNkDJRYd68Xu4SuuHq3vyVpVC7Ii3jpqiOL5KrCbBa6bu6d98CC3eX7BQNvaSmVX7EON1fXsekurOP_TxQwl183yaEmU7ceo85oJwIyWk3oim0CT4K1HhAir8NJ1U_FUMYqaRiK5hGw1-O13CapU9IT0k7VQKNA-HFuYWrcEvlc-J5kIR9BBM/s72-c/Soeharto%20pahlawan%20nasional.jpg
Tanah Air News
https://www.tanahairnews.id/2025/11/soeharto-pahlawan-nasional.html
https://www.tanahairnews.id/
https://www.tanahairnews.id/
https://www.tanahairnews.id/2025/11/soeharto-pahlawan-nasional.html
true
2557065536215806934
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Lanjut Membaca Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content